Saya sudah 29 kali menggendong jenazah bayi

Bincang bincang dengan Prof Haryono SuyonoKetua Yayasan Sayap Ibu, Hj Ciptaningsih Utaryo, mengatakan Yayasan Sayap Ibu telah didirikan sejak tahun 1955 oleh Bung Tomo. Ciptaningsih Utaryo merupakan anak buah Bung Tomo. Sejak perang kemerdekaan dia bersama dengan Ibu Nasution dan Ibu Maryono telah bergerak melakukan kegiatan sosial untuk membantu penderita masalah sosial.

Yayasan Sayap Ibu mempunyai misi, bahwa setiap anak mempunyai hak atas perawatan dan perlindungan sejak dalam kandungan sampai dilahirkan. Oleh karena itu Yayasan Sayap Ibu anti aborsi, karena setiap anak dalam kandungan sudah berhak untuk hidup dan dibenarkan oleh konvensi PBB.

Misinya adalah menolong anak-anak yatim piatu dan membatasi yang tadinya balita yatim piatu yang tidak ada walinya. Misi kedua, adalah menolong anak-anak balita terlantar yang tidak diketahui orang tuanya atau anak temuan yang ditinggal disembarang tempat. Misi ketiga, adalah mengurusi anak-anak terlantar karena sesuatu hal dan belum ditolong oleh siapapun, seperti anak cacat ganda yang ditinggal di Rumah Sakit. Hal itu diungkapkan Hj. Ciptaningsih Utaryo sebelum mendampingi Ketua DNIKS untuk menyampaikan usulan sebagai masukan dalam penyusunan RUU Kesos dengan Panitia Ad Hoc III Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI) baru-baru ini di Jakarta.


Yayasan Sayap Ibu, kata Ciptaningsih, ada di tiga tempat yaitu, Jogyakarta, Jakarta dan Banten . Kegiatan di Jogya sudah luas tetapi di Banten belum dan baru saja mendirikan panti cacat ganda tepatnya di Tanggerang. Sedangkan di Jakarta belum begitu luas. “Di Jakarta banyak pengangkatan anak oleh orang asing dan itu juga didampingi agar tidak terjadi jual beli anak agar anak tetap berada di Indonesia,” tambah Ibu yang kini berusia lebih delapan dasawarsa..

“Sesungguhnya Yayasan Sayap Ibu itu melindungi janin,” kata Ciptaningsih. Kalau janin sudah mempunyai masalah Yayasan Sayap Ibu bisa memberi perlindungan sampai lahir. Kalau sudah lahir kemudian orang tuanya mau mengambil maka anak dikembalikan kepada keluarga. Disamping itu Yayasan Sayap ibu juga punya panti perawatan dan perlindungan anak-anak balita terlantar. “Sementara pengangkatan anak juga ada ijinnya, sebab kalau tidak hati-hati akan terjadi jual beli anak,” kata dia lagi.

Ibu Ciptaningsih Utaryo Yang masih tetap eksis memimpin Yayasan Sayap IbuSayap Ibu di Jogya ijinnya ada empat, yaitu sebagai pekerja karya sosial ijinnya dari Depsos. Sebagai Yayasan ijinnya dari Departemen Kehakiman dan HAM . Dan Sayap Ibu punya pendidikan SLP itu ijinnya dari Departemen Pendidikan. Sementara kegiatannya macam-macam ijinnya tersendiri. Yang sistem Panti adalah satu, Panti perawatan dan perlindungan anak-anak balita terlantar. Sementara yang cacat ganda angkibat orang tuanya minum obat pengguguran dll juga punya Panti penyantunan dan rehabilitasi cacat ganda. Cacat ganda ini sekarang yang tertua berumur 30 tahun yang hanya bisa hidup.

Dalam menanggulangi kebutuhan Yayasannya, Ciptaningsih setiap bulannya memerlukan dana sebesar Rp 80 juta. Dana itu berkat partisipasi masyarakat. “ Untuk menunjang berlangsungnya Panti kami tidak punya penghasilan tetap, kami hanya bekerja dan berdoa,” ujar Ibu Ciptaningsih Utaryo mengenang perjalanan panjang yayasan yang digelutinya.

“ Alhamdulillah Gusti Alloh tidak tega membiarkannya sendiri,” uajr Ciptaningsih Utaryo. Karena semua anak yang masuk Yayasan Sayap Ibu diangap amanah dari Allah SWT. Kalau anak cacat seperti itu akan diserahkan kepada siapa? ungkap Ciptaningsih Utaryo, dalam nada tanya. Kalau ada anak yang meninggal, tambah Ciptaningsih, kami sendiri yang menggendong untuk dimakamkan.
Sejak mengabdi di Yayasan Sayap Ibu pada tahun 1955, dirinya telah menggendong bayi yang meninggal senbanyak 29 kali untuk dimakamkan.

“Kalau sudah ikut menangani jaringan anak-anak cacat maupun terlantar harus berbicara dengan nurani yaitu berdoa bekerja dengan baik dan benar. Kalau ada pengangkatan terhadap anak terlantar maupun anak cacat bukan demi orang yang tua, tetapi untuk anak itu sendiri.” Tambahnya dalam nada lembut.

Prof Dr H Haryono Suyono Berbincang dengan Hj Ciptaningsih Utaryo pada Acara Gemari Show TVRIDitanya perhatian dan dukungan pemerintah terhadap Yayasan Sayap Ibu, Ciptaningsih Utaryo menyebut untuk makan anak besarnya Rp2.500. Jumlah itu untuk pisang saja sudah habis,” katanya.

Yayasan Sayap Ibu ditangani sebanyak 59 orang termasuk guru-guru SLB . Sementara ini sarana dan prasarana termasuk gedung sudah milik sendiri. Bahkan masih mempunyai lahan kosong yang akan dibuka pertanian untuk berlatih bagi anak-anak cacat agar mereka mempunyai harga diri. Untuk menghilangkan image bahwa mereka bukan anak panti mereka ditempatkan disebuah asrama Rajawali.

Sayap ibu adalah tempat pengentasan anak-anak untuk kemudian dikembalikana kepada orangtuanya, atau kembali ke kekeluarga atau kepada keluarga angkat atau keluarga asuh dalam dan luar negeri. Kalau anak tidak cacat tidak dipilih orang dirujuk dengan Panti Asuhan . Kalau sudah berumur 7 tahun disalurkan ke Pantia Asuhan Yatim Piatu . Kemudian bagi yang cacat kalau dua sampai tiga tahun masih tetap cacat dan cacat-cacatnya cacat ganda maupun cacat seumur hidup dipindahkan ke Panti Cacat Ganda. Selain Itu Sayap Ibu juga punya TPA hasil kerjasama dengan PKK . Ada pula TK yang sifatnya untuk umum lokasi tidak jauh dari Panti . Sementara lomba-lomba anak panti terus diikutkan sehingga banyak menghasilkan piala.

Ibu Ciptaningsih Utaryo sangat mendukung diperhatikannya anak-anak penyandang cacat. “Saya mendukung Dewan Nasional Indonesia Untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) yang bersemangat mengusulkan UU Kesos dapat cepat terwujud sehingga berbagai permasalah social di negeri ini bisa ditangani dengan baik dan adil. Selain itu dengan adanya UU diharapkan pemerintah lebih mkemberikan perhatian dalam penanganan anak-anak cacat maupun anak-anak terlantar.

Untuk mengurangi berbagai permasalahan social khususnya yang menyangkut anak-anak cacat akibat rencana pengguguran dengan minum obat, seyogyanya orang tua yang anaknya sudah masuk usia SMP, dapat memberikan pengetahuan tentang kesehatan tentang reproduksi.kepada anaknya. Disebutkan di Jogya, tambah Ciptaningsih Utaryo, banyak anak-anak seusia SMP menjadi korban kekerasan seksual dari keluarganya, bapaknya, omnya, bahkan kakeknya. (h.nur)