Sukses di Agrobisnis dari Sapi


Last Updated on Thursday, 20 May 2010 10:05
Written by Rahman
Monday, 31 August 2009 19:57
Berawal dari perkebunan kopi, cengkeh dan tanaman lainnya, H Haryanto mencoba memverifikasikan usahanya itu dengan tambahan penghasilan lain. Terobosan itu dilakukan dengan uji coba menanam crisant, bunga potong dalam green house. Tak puas dengan itu, Haryanto mencoba menanam paprika yang hasilnya bisa eksport ke manca Negara. Haryanto merupakan salah satu petani sukses yang berjuang bersama Koperasi Peternak Sapi Perah (KPSP) Setia Kawan di Nongkojajar, Malang, Jawa Timur.
BETAPAPUN Nongkojajar dikenal dengan peternak sapi perahnya, tak mungkin kita lupakan begitu saja kondisi tanah Nongkojajar yang cocok untuk lahan pertanian dan perkebunan. Salah satu pemanfaat lahan potensial itu adalah Haryanto, pembina KPSP Setia Kawan Nongkojajar.
Bertemu dengan lelaki yang sekilas memiliki wajah peranakan Belanda, terkesan sederhana dan low profile. Mengingatkan kita pada aktor gaek, Rudy Wowor yang ternyata merupakan penduduk asli Nongkojajar. Sebagai keluarga besar yang memiliki 14 saudara, masyarakat Nongkojajar sepertinya cukup mafhum, bila dari persaudaraan yang kental itu telah melahirkan lahan perkebunan sangat luas secara turun temurun di sepanjang desa Lokasari, Nongkojajar. “Keberhasilan kami tak lepas dari bantuan KPSP Setia Kawan,” cetus Haryanto.
Sebagai Pembina KPSP Setia Kawan, Haryanto ikut membina menghubungkan para petani yang ingin menanam tanaman sejenis untuk mencari dana macam-macam melalui koperasi. “Kalau pupuk crisant dari kotoran sapi, paprika langsung bahannya dari Bandung. Yang jelas, menanam paprika sangat menguntungkan. Modal dari tanaman ini semua berawal dari peternakan sapi perah yang kita miliki,” jelasnya.
Keuntungannya jauh lebih besar
Menanam bunga potong crisant dan paprika diakuinya memiliki tantangan sendiri. Keduanya sama-sama datang dari Belanda, tapi memiliki perawatan berbeda. Bunga crisant melalui media tanah langsung, sedang paprika tidak menggunakan media tanah. Melalui green house yang harus steril dengan baik, tanaman paprika menggunakan media arang sekam.
“Perawatannya pasti lebih rumit paprika, tapi hasilnya jauh lebih menguntungkan,” cetus Haryanto mengungkapkan alasan mengapa mau bersusah payah menanam paprika.
Ditemani isterinya, Hj Endang Trisilawati, SPd, Haryanto menjelaskan secara detail bagaimana perawatan paprika dan berapa biaya yang dikeluarkan untuk mendapat hasil terbaik dari usahanya ini. “Awalnya kita coba menanam di suatu tempat di Talagasari tahun 83-an, lama-lama kok menguntungkan. Akhirnya kita kembangkan di sini (Lokasari),” kata Haryanto menceritakan asal muasalnya menanam paprika.
Bisa dibayangkan, bila 14 saudara dari Haryanto ini rata-rata memiliki dua unit green house dan beberapa hasil perkebunan lainnya. Asset yang dihasilkan dari rumpun keluarga ini terbilang cukup besar untuk memajukan desa yang dulu minus irigasi. Terlebih, keberadaan Koperasi Peternak Sapi Perah Setia Kawan telah mensejajarkan mereka yang tidak mampu, tertular dengan berbagai inovasi yang dikembangkan melalui kemitraan petani, peternak dengan koperasi.
Diakuinya, tidak semua orang mau menanam paprika. Selain cukup merepotkan , biayanya pun mahal. Bayangkan saja, kapasitas 500 pot batang saja harus menelan biaya sekitar Rp 109 juta, untuk tempatnya saja atau green house. Belum lagi biaya pupuk yang didatangkan langsung dari Belanda melalui PT Zoro di Bandung, setiap minggunya harus mengeluarkan uang sebesar Rp 570.000 untuk satu set pupuk. Ditambah biaya 62 tenaga kerja lokal yang diambil dari penduduk sekitar untuk perawatan 3 unit greenhouse.
Mengapa satu green house perlu uang sekian ratus juta untuk menanam paprika? Green house seperti yang diceritakan oleh Haryanto adalah sebuah kehidupan bagi sekelompok tanaman paprika yang benar-benar diatur suhu panasnya tidak boleh lebih antara 10 – 12 persen, dihitung kelembabannya dengan lantai yang ditutupi busa halus.
Untuk menjaga suhu di dalam ruangan, digunakan ultra violet, dengan lapisan luar berupa jarring dan dinding pelastik. Saking sterilnya, pengunjung yang datang harus melepaskan sepatu. Dan tidak sembarang orang bisa masuk, apalagi tanaman lain yang bisa membawa hama.
Penyemprotan hama dilakukan seminggu dua kali. Untuk mengetahui serangan hama pada tanaman, dilakukan yellow trik, semacam tipuan kertas kuning, warna yang disukai oleh hama tanaman. Sehingga ketika hama menyerang, langsung menempel pada kertas kuning tersebut.
Setelah disemprot hama, green house tersebut dibiarkan kering tanpa dialiri irigasi. Supaya steril, digunakan pula formalin dosis rendah, pestisida dan lisol. Setelah dijamin steril, tanaman paprika itu dimasukkan ke dalam green house. Pada usia semai 12 hari, tanaman tersebut dimasukkan ke dalam polypack. Kemudian pada usia 21 hari masuk ke dalam slap (sejenin bantalan). Setiap satu slap ada empat tanaman dengan varitas macam-macam, seperti paprika kuning, merah, ungu dan hijau. “Yang kita kembangkan saat ini merah dan kuning, mengikuti selera pasar,” tandasnya.
Dari semai sampai usia 3 bulan, kata Haryanto, bisa langsung dilakukan panen pertama, kemudian setiap minggunya bisa dipanen terus dengan masa produksi 9 bulan sampai 1 tahun. Pada masa ini, tanaman paprika panjangnya bisa mencapai 4 meter.
Memiliki tanah luas dengan tiga green house, diakui Haryanto masih cukup kewalahan menerima permintaan pembeli. Selain pemasok lokal, dari negara-negara lain seperti Malaysia, Singapura dan Brunei. “Sebenarnya banyak yang minta tapi kita tidak mampu memenuhi produksinya kalau kita ikuti. Belum lama ini kita tidak bisa melayani permintaan pemasok dari Batam,” jelasnya.
Pasar lokal yang ada saat ini, kata Haryanto, baru sampai di Bali, Surabaya, Malang, Batu dan Jakarta. “Batam belum bisa kita penuhi, tapi pemasok Singapura justru ambil dari kita untuk dikirim ke Batam,” cetusnya sambil tertawa.
Menurutnya, sekali priode selama 9 bulan memetik hasil panennya sudah menutupi anggaran yang disebutkan sebelumnya. Paprika biasanya didistribusikan ke hotel-hotel dan rumah makan. “Paprika sangat enak untuk dijadikan bahan bumbu masakan. Kalau kita masak tradisional untuk tempe, teri misalnya, dicampur paprika hijau ataupun merah akan kelihatan lebih manis dan rasanya sedap. Seamis apapun kalau pakai paprika tidak amis seperti halnya daging,” kata ibu Haryanto.
Sebelum menjadi merah, paprika warna hijau bisa terjual dengan harga Rp 13.000 per kilogram. Paprika warna merah bisa terjual dengan harga Rp 28.000 per kilogram dan paprika kuning seharga Rp 30.000. Paprika kuning lebih mahal harganya karena permintaannya tidak sebanyak paprika merah, sedang paprika hijau lebih banyak permintaan. “Setiap satu kilonya ada sekitar 5 buah paprika. Sementara kalau kita perhatikan di Supermarket, 1 buah paprika hijau harganya Rp 13.000,” jelasnya.
Untuk penjualan ke luar negeri, lanjut Haryanto, harga tidak dibedakan. “Lokasari ini paprikanya lebih bagus dibanding daerah lain. Karena berada pada ketinggian 650 sampai 1200 kaki pegunungan. Permintaan untuk ekspor biasanya meminta kualitas super. Barang kita super semua. Cirinya, kulitnya lebih tebal,” jelasnya.
Berbeda dengan paprika yang tidak membutuhkan lampu pada malam hari, perawatan bunga crisant justru membutuhkan lampu yang panasnya butuhnya 14 derajat di dalam green house berlapis ultra violet. Banyaknya perbedaan perawatan itu, membuat paprika dan crisant tidak boleh dicampur.
Pada bunga crisant juga bisa dipanen pada usia 3 bulan dengan pemupukan segala macam. Hanya saja ketika batang tanaman crisant bertambah panjang, diperlukan jaring untuk menguatkan tanaman semacam lubang segi empat biar tidak roboh. Sementara tanaman paprika menggunakan benang untuk menaikkan batang tanaman. RW/DONI