MEMANFAATKAN BARANG BEKAS MEMBANGUN ANAK BANGSA

Biarpun terlambat, menyaksikan kesibukan Ibu-ibu dari Rw 05, Perumahan Bekasi Baru, di kota Bekasi. Ibu-ibu yang tergabung dalam kesatuan gerak PKK di RW itu sejak satu tahun lalu membangun Pendidikan Anak Usia Dini, PAUD Bunga Bangsa, yang dipimpin oleh Ibu Ani Resmiyati, dan Ibu Zulfatul Nafillah selaku Sekretaris PAUD, serta anggota PKK lainnya. Para pengurus bersama-sama membimbing anak-anak dibawah usia lima tahun yang berasal dari RT dan RW sekitarnya. Mereka beruntung mendapat dukungan dari seorang penduduk dermawan di kampung itu, Bapak Ir. H. Kosasih, yang dengan baik hati merelakan separo rumahnya untuk kegiatan pendidikan PAUD.

Sejak satu tahun lalu ibu-ibu dengan penuh semangat merubah kamar demi kamar serta halaman dan kebun di belakang rumah menjadi kelas-kelas belajar untuk anak-anak balita yang rajin tersebut. Pada awalnya hanya sepuluh keluarga yang mengirim anak-anaknya untuk belajar bersama dua hari dalam satu minggu ke PAUD tersebut. Tetapi lama kelamaan jumlah keluarga yang mengirim anaknya bertambah banyak dengan usia yang makin bervariasi.

Anak-anak yang sekarang berjumlah lebih dari 68 orang dibagi dalam tiga kelompok bermain agar mereka bermain dengan teman sebaya. Dengan teman bermain yang sebaya mereka menjadi semakin ceria dan menikmati kebersamaan sesama temannya. Ruangan yang terbatas terpaksa dibagi-bagi sebagai ajang kelompok bermain yang ada kalanya dipindah pindah agar tidak timbul rasa bosan diantara sesama anak karena seharian bermain di tempat yang sama.

Pada pagi hari, terpaksa keluarga pak Kosasih “dilarang” menjemur pakaian karena halaman di belakang rumah dipergunakan untuk arena bermain di luar ruangan. Jalan di depan juga sudah dipergunakan untuk bermain kelompok lainnya. Baru apabila matahari makin menyengat keluarga itu boleh menjemur cuciannya. Dengan cara demikian anak-anak batita dan balita bisa bermain di jalan di depan rumah dan sebagian lagi bermain di halaman belakang yang sempit tetapi cukup memadai sebagai sarana bermain di luar ruang.

Sebelum akhir tahun yang pertama PAUD binaan ibu-ibu itu telah mendapat perhatian yang sangat luas. Berita tentang adanya PAUD yang dikelola dengan baik menyebar kepada keluarga yang tinggal jauh dari RW itu sehingga ada beberapa anak batita dan balita yang diantar orang tuanya dari kampung yang jauh dari RW tersebut. Para ibu pendatang merasa bahwa keluarga yang anaknya diasuh di PAUD itu baik-baik sehingga mereka merelakan anak-anaknya untuk ikut bergabung bersama di PAUD itu.

Popularitas dari PAUD yang menyebar tersebut membuat para pengasuh lebih hati-hati sehingga kegiatannya didaftarkan secara resmi pada Dinas di kantor Walikota. Sayangnya Dinas yang mendaftar kegiatan PAUD yang diasuh secara sukarela itu memungut iuran Rp. 400.000,- setiap tahunnya. Biarpun pembayaran itu tidak banyak, semestinya pemerintah memberikan bimbingan dan bantuannya dan tidak memungut uang pendaftaran untuk usaha sukarela Ibu-ibu seperti itu. Usaha sosial tidak semestinya menjadi unit sumbangan keuangan daerah.

Untung saja akhirnya pemerintah kota berbaik hati, biarpun tidak banyak, empat dari 11 tenaga pengasuh pada PAUD itu mendapat sumbangan subsidi dari pemerintah kota. Tetapi, seperti lazimnya sumbangan, bantuan itupun tidak bebas dari berbagai pungutan yang tidak jelas sehingga jumlah yang diterima tidak selalu sama dengan jumlah yang dijanjikan. Hal-hal seperti ini, lebih-lebih untuk suatu lembaga pendidikan anak usia dini, sungguh tidak tepat dan justru memberikan citra yang tidak sedap terhadap lembaga pengelola pendidikan kepada orang tua yang mengirimkan anaknya, dan citra yang negatip terhadap aparat pemerintah.

Dalam memberikan bimbingan kepada anak-anak asuhannya, termasuk salah seorang daripadanya adalah anak tuna netra, mereka mengetrapkan sistem pamong dengan cinta kasih dari ibu-ibu yang bertindak sebagai bunda tersayang. Mereka membimbing anak-anak asuhannya seakan anak sendiri dengan penuh kasih sayang. Pada waktu kami berkunjung kelihatan sekali bahwa setiap anak melekat erat dengan bunda pengasuhnya di PAUD seperti dengan bunda mereka masing-masing, termasuk anak tuna netra yang dengan akrab mengenal setiap bunda pengasuh yang ada disitu hanya dengan sentuhan tangannya saja, bukan melalui suaranya.

Materi yang diberikan beraneka ragam dengan tujuan agar setiap anak senang bermain dan bertambah kemahirannya untuk berani tampil agar apabila tiba waktunya masuk ke sekolah dasar bisa berani berhadapan dengan mata pelajaran yang lebih rumit dan tidak lagi cengeng kepada bapak ibunya karena meminta pertolongan. Mereka dilatih mandiri dan berani tampil dengan percaya diri. Mereka bernyanyi bersama, tampil sebagai penyanyi solo, melukis, memberi warna dengan tepat pada gambar yang sudah ada, atau bermain bersama kawan dengan akrab dan tidak ingin menang sendiri. Mereka belajar menang, tetapi juga belajar kalah, agak lain dengan tontonan di televisi yang serba mau menang. Nampaknya mereka tidak dilatih menjadi Superman, atau Super Hero, tetapi dilatih bekerja dalam Tim yang akrab dan kompak untuk mengadu kemampuan dengan moto siap menang dan siap pula untuk kalah.

Karena PAUD merupakan kegiatan sederhana, pilihan media pendidikan sangat inovatip. Untuk praktek pewarnaan para pengasuh memotong-motong gambar koran atau majalah dan mengcopynya pada mesin photo copy biasa. Dengan photo copy warna aslinya berubah menjadi hitam putih. Dalam pelatihan memberi warna, anak-anak balita diberi pensil pewarna untuk memberi warna yang benar pada gambar hitam putih itu. Anak-anak balita yang kreatip memberi warna menurut imajinasinya. Pada akhirnya ditunjukkan warna aslinya sehingga mereka bisa membandingkan hasil inovasi masing-masing dengan rasa puas dan kebanggaan.

Untuk memberikan penghargaan, hasil karya anak-anak itu ditempel dibelakang halaman kalender dinding bekas yang tahunnya sudah berganti. Kalender bekas yang ditempeli gambar anak-anak didik bisa dimainkan seperti “flip chart” yang mahal, karena dibelakang setiap halaman itu ada gambar lain yang menarik. Setiap anak mendapat kesempatan bercerita tentang lukisan yang mereka beri warna. Dengan imaginasi yang tinggi setiap gambar bisa mempunyai cerita yang menarik. Lebih dari itu, halaman belakang kalender bekas itu dipergunakan juga untuk memperkenalkan binatang, ikan atau obyek lainnya. Inovasi murah meriah yang sangat berguna untuk mendidik anak bangsa. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Yayasan Damandiri, www.haryono.com).