MELUNCURKAN GERAKAN PEMBANGUNAN BUDAYA HIDUP SEHAT


Last Updated on Wednesday, 11 November 2009 20:59
Written by Rahman
Wednesday, 11 November 2009 20:59
Tanggal 12 Nopember 2009, kita memperingati Hari Kesehatan Nasional, bukan Hari Kesakitan Nasional. Oleh karena itu, keluarga di banyak tempat yang anggotanya sehat dan segar bugar merasa sangat bersyukur bahwa usahanya untuk memelihara kesehatan anak dan kerabatnya berhasil dengan baik. Sebaliknya, mereka yang sakit dan mendapat perawatan yang baik dan terjangkau merasa berterima kasih, karena keluarganya tidak bertambah miskin karena sakit. Memelihara kesehatan jauh lebih menyenangkan dari pada memelihara seseorang yang sedang sakit dan harus tinggal di rumah sakit.
Kita merasa sangat berbahagia bahwa program 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu II bagi bidang kesehatan telah diumumkan oleh Menteri Kesehatan Dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, dengan mengacu pada pencapaian MGDs (Millenium Development Goals) lengkap pada delapan sasarannya, utamanya sasaran bidang kesehatan yang tidak ringan. Pencapaian MDGs akan menjamin ditingkatkannya Index Mutu Manusia (IPM), atau Human Development Index (HDI) yang posisi Indonesia hampir tidak pernah berubah dari ranking di atas angka 100. Bahkan untuk tahun 2009, Indonesia menempati urutan ke 111.
Membangun budaya sehat tidak harus melalui pemberian kartu sehat semata. Semua pihak baik jajaran Departemen Kesehatan maupun Dinas Kesehatan di seluruh Indonesia harus bisa menyediakan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau. Lebih dari itu para ahli kesehatan harus bersatu dengan seluruh komponen pembangunan dan rakyat banyak untuk membangun budaya hidup sehat agar penduduk berusia panjang. Ukuran utama keberhasilan bidang kesehatan adalah usia harapan hidup yang panjang. Program kesehatan harus setia pada sasaran utama yang disepakati di seluruh dunia dalam MDGs, yaitu menjamin keluarga, utamanya ibu dan anak dengan baik agar tidak meninggal dunia pada usia muda. Penyakit menular harus dicegah dengan kebersihan lingkungan yang kondusif, gizi yang baik dan kesiap siagaan pelayanan kesehatan sedekat mungkin dengan sasarannya.
Jajaran kesehatan harus bergabung dengan seluruh komponen pembangunan mengajak setiap keluarga mempunyai pekerjaan yang bisa menghasilkan pendapatan yang cukup agar bisa memberi keluarganya makanan bergizi, mempunyai lingkungan hidup di sekitar rumah dan tempat kerjanya yang nyaman dan bebas virus atau bibit penyakit yang mudah ditularkan melalui jalur apa saja, terutama lingkungan yang tidak bersih dan tidak nyaman.
Semua orang pasti tahu bahwa budaya hidup sehat memerlukan peran aktif setiap penduduk untuk menganut pola hidup yang teratur, olah raga yang baik, makan makanan yang bergizi serta mengontrol kesehatannya biarpun merasa tidak sakit. Kontrol kesehatan sebelum sakit akan membuahkan pesan dari dokter yang memeriksa cara lebih majur untuk memelihara dirinya dengan cara yang jauh lebih murah dibandingkan menunggu sakit yang harus dirawat di rumah sakit. Mereka yang sehat dianjurkan mengatur kegiatannya, sekali-kali berlibur ke tempat yang jauh dari stress agar tidak terpaksa kena stroke. Penderita stroke harus berobat secara rutin dan tidak lagi bisa bekerja dengan sempurna.
Kita berharap sangat banyak kepada Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih, Menteri Kesehatan baru yang memiliki latar belakang Ilmu Kesehatan Masyarakat, untuk berpihak kepada masyarakat dan mengajak seluruh komponen di pedesaan, kelurahan dan di kota, memikirkan dan menyiapkan dirinya melalui pendekatan preventiv tanpa menutup kemudahan bagi yang sakit untuk berobat dengan bantuan pemerintah. Bantuan yang selama ini ditujukan untuk penduduk miskin perlu ditata ulang dalam bentuk asuransi bersubsidi yang memungkinkan penduduk miskin memiliki asuransi dengan potongan harga. Jaminan sosial yang adil melalui gerakan masyarakat yang luas akan memungkinkan bangsa ini mengembangkan budaya hidup sehat.
Karena itu alangkah baiknya kalau aparat dinas kesehatan di seluruh Indonesia diajak ikut serta dalam gerakan Kebun Bergizi di seluruh dusun, sehingga dalam musim hujan ini semua pekarangan penduduk, yang luas atau yang sempit, secara gotong royong diubah menjadi Kebun Bergizi yang hasilnya dapat memberi gizi tambahan bagi seluruh keluarga. Program ini di daerah-daerah rawan gizi diberikan subsidi untuk membeli bibit tanaman bergizi, dana yang mencukupi untuk sumbangan pupuk, atau diberikan pendampingan bersama dengan para petugas lapangan dari dinas pertanian dan perkebunan. Dengan Kebun Bergizi penyakit akan menjauh karena halaman rumah dirawat baik dan menghasilkan makanan tambahan yang bisa diambil setiap hari. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Umum DNIKS, www.haryono.com).