MEMBANGUN PERDAMAIAN DUNIA

     Tanggal 25 Nopember 2009, Hari Perdamaian Dunia akan diperingati di Indonesia. Sekali ini peringatan Hari Perdamaian Dunia akan dipusatkan di kota Ambon, Ibukota Maluku. Menurut rencana Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, bersama beberapa Menteri dan para pejabat teras akan menghadiri peringatan Hari Perdamaian Dunia tersebut. Salah satu acara yang sangat penting adalah penempatan Gong Perdamaian Dunia dalam suatu Monumen Perdamaian di kota Ambon. Gong yang akan ditempatkan itu merupakan Gong yang ke 35. Sekitar 34 Gong lainnya telah ditempatkan di berbagai negara mulai dari Republik Rakyat China, India, Honggaria dan lainnya. Gong yang ke 35 ini diharapkan menjadi simbol dan perangsang perdamaian di Ambon, tempat-tempat rawan lain, di seluruh tanah air dan di seluruh dunia.



Kita mengetahui bahwa bangsa Indonesia sangat mencintai perdamaian, tetapi sangat sayang pada kemerdekaan. Karena itulah barangkali kita sabar menunggu selama 350 tahun lebih di bawah penjajahan dengan harapan “mereka” mengerti kebutuhan dan masa depan anak dan cucu-cucu bangsanya. Setelah nyata-nyata harapan pada penjajah itu tidak kunjung dipenuhi, maka bangsa ini marah. Dan dengan tekad yang tidak satupun bisa membendung, kita melawan dan mengusir penjajah semata-mata menginginkan kemerdekaan sebagai jembatan emas untuk mengantar seluruh anak bangsa demi sebesar-besar kesejahteraan anak cucunya.

Dengan perjuangan yang gigih itu kita akhirnya meraih kemerdekaan. Anak bangsa yang terbaik Bung Karno ditugasi untuk mengangkat derajat seluruh anak bangsanya ke seluruh penjuru dunia sambil mempersatukan bangsa ini dengan tetap menghargai kemajemukan dan perbedaan yang merupakan kekayaan yang tidak ada taranya. Berkat kepemimpinannya, kita merasa bangga menjadi warga dunia. Di mana-mana muncul penghargaan yang tidak ada taranya seakan membuat kita lupa bahwa beberapa tahun sebelumnya bangsa kita dikenal sebagai budak yang hina dan direndahkan.

Kemudian datang pemimpin berikutnya, Pak Harto, yang mengisi kebanggaan itu dengan ilmu, kesehatan dan kemampuan ekonomi yang memadai. Kita tidak saja bangga menjadi bangsa Indonesia, tetapi bisa juga dengan gagah berani bicara di forum internasional dengan percaya diri dan bahasa yang lantang tentang keberhasilan demi keberhasilan pembangunan. Tidak jarang anak bangsa itu bukan saja menjadi juara matematika di sekolah, tetapi sanggup memberi beras kepada saudaranya di Afrika, sanggup mengajar cara-cara mengatur penduduk melalui program KB dan Kesehatan, sanggup mengentaskan kemiskinan dan sanggup pula membawa hasil-hasil kreasi anak bangsa dalam budaya dan seni ke seluruh dunia.

Secara eksplisit pak Harto sanggup menjamin stabilitas yang dinamis, tidak lain adalah perdamaian antar anak bangsanya, sebagai syarat utama pelaksanaan pembangunan yang berkesinambungan. Proses pembangunan yang berkesinambungan itu dijamin pula dengan peningkatan mutu anak bangsanya melalui sekolah di mana-mana dan menjamin kesehatan dengan adanya dokter dan bidan keliling yang tidak pernah ada sebelumnya. Jaminan KB, kesehatan dan pendidikan itu dibarengi dengan upaya membangun ekonomi berbasis koperasi yang digalakkan dengan mengajak semua pihak memberi kemudahan dan jaminan yang menarik.

Pada waktu pak Harto lengser dengan damai karena tidak ingin mengorbankan anak cucu bangsanya, dan beberapa oknum dengan cara kasar ingin menghapus semua hasil pembangunan, Panglima Kodam Jaya waktu itu, Mayor Jenderal Bibit Waluyo, dengan dukungan dan bantuan banyak kalangan luas, termasuk Yayasan Damandiri, yang ingin negara ini aman dan damai, menggelar seruan damai ke seluruh pelosok daerah di Jakarta. Di mana-mana dipasangnya spanduk dengan kata-kata sederhana “Damai itu Indah”, “Kita bangun Keluarga Sejahtera dalam suasana damai”, dan sebagainya. Seruan damai itu mempunyi andil bagi keberhasilan peredaan suasana panas di Ibu Kota Jakarta, sehingga reformasi yang kita harapkan menambah keberhasilan pembangunan dapat dilanjutkan tanpa merusak tatanan yang dengan susah payah telah kita atur sebelumnya.

Kita juga beruntung beberapa kali kedatangan Yang Mulia Almarhum Sri Chinmoy, seorang penganjur perdamaian dari India dan Amerika, yang setiap kali datang selalu disertai tidak kurang dari 500 pengikutnya dari seluruh dunia. Setiap datang di Indonesia dan berkeliling di berbagai daerah, Sri Chinmoy selalu membawa pesan dan suasana damai melalui doa, meditasi dan kegiatan sosial kemasyarakatan di banyak kota. Kedatangannya selalu menarik minat para pemimpin nasional, biarpun tidak banyak disiarkan melalui media massa. Kegiatan doa dan meditasi damai yang diiktui oleh seluruh pengikutnya dari seluruh dunia merangsang para pemimpin daerah dan undangan yang biasanya membeludak makin bersatu dan disertai dengan tekad dan doa bersedia bekerja keras mengatasi kebodohan dan kemiskinan. Sayang beliau yang dikenal dalam merangsang upaya perdamaian di seluruh dunia itu meninggal dunia pada usia “muda” sekitar 77 tahun.

Pada tanggal 25 nanti, Presiden SBY akan menghadiri Peringatan Hari Perdamaian Dunia dan sekaligus meresmikan Gong Perdamaian Dunia. Peristiwa ini terjadi pada masa jabatannya yang kedua. Lebih dari 60 persen penduduk mempercayakan nasib dan masa depan anak cucu bangsa ini kepadanya. Kita berharap bahwa pemukulan Gong Perdamaian Dunia di Ambon akan membawa dampak yang sama dengan gerakan yang dicanangkan Bung Karno dan pak Harto sebelumnya, damai dan bersatumya sesama anak bangsa, sehingga bisa bekerja secara gotong royong membangun untuk masa depan yang lebih baik. Kita tidak memerlukan Rambo, atau Tarzan, atau Superman, tetapi Super Tim yang dipimpin dengan hikmat kebijaksanaan untuk sebesar-besar kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh anak bangsa. Damai untuk bersatu dan membangun! (Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Umum DNIKS, www.haryono.com)